POLITIK KOMODITAS
“Bahrul Fikri A” (085843561927)
“Hamparan Hijau Bukan Letak Kemiskinan, melainkan Kesajehteraan untuk Petani”
Negara Agraris tapi banyak petani menaggis? Tanah surga tapi banyak petani pindah bekerja ke kota? Negara sudah merdeka tapi petani banyak yang dipenjara?. Cerita tentang pahlawan pangan tak akan ada habisnya. Mulai dari rendahnya harga komoditas pertanian sampai impor yang menyusahkan dikala panen raya tiba.
Komoditas-komoditas pertanian memainkan peran yang sangat vital. Mulai dari bahan pangan sampai buah-buahan yang menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari. Pertanyaan yang perlu kita jawab adalah darimana kita memperoleh bahan pangan, kebutuhann akan buah-buahan, dan sayur kita sehari-hari? Apakah itu membeli dari petani, ataukah itu hasil impor pemerintah yang kita nikmati sehari-hari?
Kekalahan komoditas lokal kita menambah panjang catatan derita petani. Impor hasil pertanian yang berdampak pada rusaknya harga sampai erosi genetik tak bisa dihindarkan. Impor bawang putih yang memiliki bentuk besar dan harga lebih murah membuat masyarakat beralih komoditas. Tahun pertama komoditas masuk ke Indonesia, warga terpengaruh oleh harga yng lebih murah dan bentuk yang besar, sehingga petani bawang putih lokal mulai terancam karena harga tidak stabil.
Tahun kedua bawang putih lokal mulai jarang ditemukan di pasar, karena kalah dalam persaingan pasar. Masyarakat mempunyai idola baru dengan harga yang lebih murah dan lebih besar ukuranya, walaupun secara aromatik satu bawang putih lokal setara dua sampai 3 bawang impor. Tahun ketiga petani mulai menganti tanaman mereka karena harga yang rendah dan berakibat pada erosi genetik akibat masuknya bawang butih impor yang masuk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar