Follow

Follow My Blog

Rabu, 29 April 2020

Ramadan Menulis 1#: Sarana Kehidupan


Tema : Puasa dan Pelajaran Kehidupan

Sarana Kehidupan
Bahrul Fikri A (085843561927)

Menjadi pribadi pembelajar merupakan tugas manusia untuk terus meningkatkan kompetensi agar menjadi pribadi yang berhasil dalam kehidupan sehari-hari. Implementasi hasil belajar dapat dicerminkan dalam prilaku dan kegiatan individu. Apakah prilaku tersebut sesuai dengan apa yang telah diucakpan? Apakah kegiatan tersebut adalah kegiatan yang positif?
Lantas kapan masa belajar ini dilaksanakan? bulan Ramadan merupakan jawabanya. Saat manusia dilatih untuk menahan hawa nafsu yang bersifat duniawi, saat manusia dilatih untuk sabar sampai masa berbuka datang, dan saat manusia dilatih untuk peduli dengan saudaranya agar semata-mata menjadi pribadi yang suci kembali.
Pertama, menahan hawa nafsu yang bersifat duniawi bukanlah perkara muda, menahan untuk mengunjing orang, menahan untuk makan berlebihan, menahan untuk tidak mendekati zina, menahan untuk tidak boros dalam membelanjakan harta, dan menahan diri untuk tidak berbuat kerusakan di bumi ini.   
Kedua, sabar sampai masa berbuka memiliki makna luas dalam realita kehidupan, bukan hanya saat puasa kita sabar untuk menunggu adzan tiba, tetapi sabar ketika apa yang kita inginkan, kita harapkan, kita idamkan belum tiba saatnya datang. jika tidak sabar maka kita tidak bisa merasakan manisnya berbuka dan bahkan bisa berdampak keburukan bagi siapapun yang tidak sabar sampai masa berbuka itu tiba.
Ketiga, manusia dilatih untuk peduli dengan saudaranya, peduli untuk melihat tetangga kanan kiri. Saat puasa misalnya, apakah tetangga memiliki cukup persediaan untuk makan sahur, untuk makan berbuka? Jalaluddin Rumi, berkata” Beradunya sendok dan garpu orang kaya dimeja makan yang terdengar oleh orang miskin adalah musik yang haram”. oleh karena itu, diberlakukanya zakat fitrah saat bulan Ramadan sebagai sarana agar memupuk rasa kepedulihan kepada kaum muslim lainya. Apalagi ditengah pandemi wabah seperti ini, MUI memfatwakan zakat bisa dikeluarkan saat awal bulan Ramadan seperti halnya perilaku para ulama dahulu mengeluarkan zakat awal bulan untuk memudahkan kaum muslim yang kurang mampu agar sama-sama bisa menikmati dan menjalankan puasa dengan lancar.
Demikian puasa dan pelajaran kehidupan yang menuntun manusia untuk berprilaku adil terhadap dirinya, adil terhadap hartanya, dan adil terhadap lingkunganya dengan menahan apa yang belum saatnya, bersabar bila belum mendapatkan, dan peduli terhadap lingkunganya.

Kamis, 23 April 2020

POLITIK KOMODITAS



POLITIK KOMODITAS
“Bahrul Fikri A” (085843561927)

Hamparan Hijau Bukan Letak Kemiskinan, melainkan Kesajehteraan untuk Petani

Negara Agraris tapi banyak petani menaggis? Tanah surga tapi banyak petani pindah bekerja ke kota? Negara sudah merdeka tapi petani banyak yang dipenjara?.  Cerita tentang pahlawan pangan tak akan ada habisnya. Mulai dari rendahnya harga komoditas pertanian sampai impor yang menyusahkan dikala panen raya tiba.
Komoditas-komoditas pertanian memainkan peran yang sangat vital. Mulai dari bahan pangan sampai buah-buahan yang menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari. Pertanyaan yang perlu kita jawab adalah darimana kita memperoleh bahan pangan, kebutuhann akan buah-buahan, dan sayur kita sehari-hari? Apakah itu membeli dari petani, ataukah itu hasil impor pemerintah yang kita nikmati sehari-hari?
Kekalahan komoditas lokal kita menambah panjang catatan derita petani. Impor hasil pertanian yang berdampak pada rusaknya harga sampai erosi genetik tak bisa dihindarkan. Impor bawang putih yang memiliki bentuk besar dan harga lebih murah membuat masyarakat beralih komoditas. Tahun pertama komoditas masuk ke Indonesia, warga terpengaruh oleh harga yng lebih murah dan bentuk yang besar, sehingga petani bawang putih lokal mulai terancam karena harga tidak stabil.
Tahun kedua bawang putih lokal mulai jarang ditemukan di pasar, karena kalah dalam persaingan pasar. Masyarakat mempunyai idola baru dengan harga yang lebih murah dan lebih besar ukuranya, walaupun secara aromatik satu bawang putih lokal setara dua sampai 3 bawang impor. Tahun ketiga petani mulai menganti tanaman mereka karena harga yang rendah dan berakibat pada erosi genetik akibat masuknya bawang butih impor yang masuk.  

  

Selasa, 21 April 2020

Mengembalikan Marwah Pangan Lewat Pesantren


Mengembalikan Marwah Pangan Lewat Pesantren
Oleh: Bahrul Fikri A


Tahun 1984 berlalu, kejayaan pangan dapat dikenang. Peningkatan luar biasa dari importir terbesar di tahun 1966 sampai menjadi swasembada beras di tahun 1984. Pembangunan sektor pertanian digalakkan dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian mulai bermunculan. Benih tanaman pangan mulai diseragamkan untuk mencapai kata swasembada. Kita bangga!!.sejauh ini hanya orde baru yang menyandang kata itu. Foto presiden sambil mengangkat padi hasil panen menjadi pemberitaan utama di media massa. Isu pangan merupakan isu menarik dalam peradaban manusia. Mulai dari ketersedian pangan, cara mengaksesnya, sampai politik pangan yang selalu menindas petani negeri. Penguasa hari esok bukanlah pemilik teknologi, melainkan penguasa pangan yang mengunci kebutuhan bagi masa depan mendatang.
Indonesia sebagai negara agraris seharusnya berada di top level atau di level kedaulatan pangan, bukan katahanan pangan yang hanya mencakup ketersedian pangan dan kemampuan seorang untuk mengakses pangan saja. Kedaulatan pangan menjadi harga mati untuk benar-benar mandiri dan berdaulat dalam penyedian pangan dari hulu sampai hilir, mulai dari mandiri benih sampai tingkat harga yang memihak bagi petani dan menutup impor kebutuhan pangan dengan diversifikasi tanaman pangan agar tidak selalu bergantung akan beras sebagai kebutuhan utama.
Namun, dalam praktik pertanian indonesia mempunyai banyak masalah yang kompleks seperti petani yang belum mandiri akan benih, petani bergantung akan bahan kimia, degradasi lahan, dan harga yang tidak bersahabat ketika musim panen tiba. Mengembalikan marwah pangan yang bisa dilakukan agar negara agraris yang memiliki keanekaragaman plasma nutfah dan memiliki tanah yang subur adalah dengan santri.
Santri dalam setiap pondok pesantren dahulunya mengabdikan diri untuk belajar ilmu agaman dan juga bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pangan saat menimba ilmu. Konsep pesantren seperti ini sangat cocok digunakan untuk melahirkan lulusan atau alumnus yang memiliki kemampuan ganda dalam ilmu agama dan ilmu pertanian yang mana saat di pesantren sama-sama di asa sehinga tidak selalu bergantung pada sarjana pertanian saja dalam menghadapi dan mencapai kata kedaulatan pangan.
Pesantren agraria menjadi model pesantren yang menarik untuk dibahas karena memiliki beberapa aspek yang menguntungkan bagi santri, pesantren, dan negara. Pesantren agraria memang jumlahnya tak banyak sekarang, namun jika pesantren ini mulai digalakkan lagi, mana tentu banyak sekali peminat yang mana dapat menpengaruhi kecintaan generasi muda akan hal pertanian yang makin hari makin di tingalkan karena pertaian diangap pekerjaan yang sulit menjadikan kaya dan selalu kotor-kotoran dengan lumpur.
Santri memang memiliki orientasi belajar agama dalam pesantren, namun jika ada bekal ganda maka ada nilai tambah. Pesantren agraria mempunyai banyak keuntungan diantaranya yakni,
1. Pesantren Daulat Pangan: Penyediaan pangan pesantren lewat hasil panen sendiri dimana pesantren mandiri dalam hal pangan tanpa membeli kebutuhan dari luar.
2. Pangan sehat: Santri pesantren mendapatkan pangan sehat dari hasil bertani mengunakan sistem organik tanpa bahan kimia. Pangan sehat menjadi nilai plus saat ini karena pestisida yang menjadi jaminan petani agar panen padahal residu pestisida selain mencemari lingkungan juga membuat penyakit.
3. Benih lokal lestari: Pengunaan benih lokal sebagai benih bertujuan untuk merawat plasma nutfah dan menjadikan santri untuk belajar menjadi ilmuan dalam bidang pertanian lewat pemulian benih. Erosi genetik tak bisa dihindari jika negara yang kaya raya dengan predikat megabiodiversity ini tidak menjaga kekayaan berupa benih lokal warisan leluhur.
4. Mencetak generasi petani: Generasi milenial menjadi generasi yang anti kotor dan engan untuk beranjak dari gadged. Krisis pangan akan terjadi jika generasi mulia para petani tinggal orang tua, tidak ada generasi muda. Kehancuran hanya menunggu negara yang kaya, tanahnya kayak surga ini.
5. Mengurangi degradasi lahan: Kesadaran untuk mempertahankan lahan produktif merupakan manifestasi kesadaran ekologi yang harus ditanamkan kepada generasi muda agar tidak mudah terjadi alih fungsi lahan, karena asas keberlanjutan perlu diperhatikan dalam pembangunan berkelanjutan.
6. Menciptakan santri mandiri: Kemandiri dalam kegiatan bertani di pesantren menuntun dalam hal kemandirian ekonomi, dimana kegiatan bertani bukan hanya di tanah tetapi juga mampu melakukan usaha dalam bidang pertanian seperti hal mampu untuk menjadikan produk-produk turunan yang mampu mendobrak ekonomi.
Pesantren agraria menjadi terobosan ketika petani mulai langkah akibat sengsara di negara merdeka, menjadi basis gerakan dari bawah dan dengan dasar ilmu agama yang kuat menjadikan santri lulusan sekolah agraria mampu merawat alam sehingga mengurangi bahan kimia di alam yang membuat tanah semakin tidak subur. Eksploitasi tanah berlebihan menjadikan tanah surga ini menjadi gersang, residu bahan kimia di alam membuat hidup manusia tidak sehat. Santri harus benar-benar mengawal dan mengembalikan marwah pangan sehingga membuat bangsa ini mensyukuri nikmat alam yang subur ini untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan dan tepat guna untuk keperluan memenuhi kebutuhan manusia.

Kaum Malthusian Modern

  Kaum Malthusian Modern Bahrul Fikri Anzwar   Thomas Robert Malthus, Seorang ekonom politik sekaligus pakar demografi Inggris sempat mengem...