Follow

Follow My Blog

Minggu, 29 November 2020

Jika Aku Menjadi Pemimpin

 

Jika Aku Menjadi Pemimpin, Maka Aku Akan Menjadi Oksigen Bagi Lingkunganku

Oleh : Bahrul Fikri Anzwar


Burung Berkicau menjadi suanana semakin berseri. Pohon-pohon menggerakkan ranting daun menyambut pagi hari dengan tarian lambaian dedaunan. Harimau mulai meraung menyambut datangnya hari. Manusia menikmati sambil melakukan aktivitas pagi. Namun, tak pernah paham bahkan mengerti bahwa isi kicauan burung merupakan sebuah aksi menyuarakan tentang kehilangan habitat. Harimau mengaung karena wilayah jelajah semakin sempit dan daun melambai akibat banyaknya oksigen yang harus dihasilkan agar lingkungan tetap sejuk. Sebuah demo hewan dan tumbuhan sebagai tuan tanah yang seharusnya mulia, bukan tersiksa di habitat asli.

Seorang Pengagum cendrawasih, merak jawa, serangga, siput, dan reptil. Pengumpul orang hutan Borneo yang sekarang tersimpan rapi di musium Derby dan British. Penikmat sekaligus pengagum Nusantara ketika flora dan fauna jauh dari kata punah. Bung Alfred Russel Wallace, sang naturalis yang telah masuk ke pedalaman Borneo antara November 1855 sampai Januari 1856.

Kondisi Borneo (Kalimantan) saat itu masih perawan, dalam buku “Petualangan Borneo” karya Wallace dijelaskan bahwa “Wallace berburu orang hutan (mias) di pedalaman dengan mengunakan senapan dan menyewa warga lokal untuk mengambil ketika tersangkut di pohon-pohon yang besar dan rimbang, bahkan sampai menebang pohon yang besar demi mendapatkan orang hutan”.

Borneo memang terkenal akan hutan dengan pohon yang lebat dan menjadi paru-paru dunia, julukan yang tak asing di telingi kita tapi tak banyak juga yang mampu menjaga nama besar Borneo akibat ulah tangan manusia yang mengancam keberlangsungan hidup hutan Borneo. Mulai dari degradasi lahan, illegal logging, perburuan liar, sampai pembakaran lahan untuk kepentingan pribadi dan korporasi.

Lahan Borneo yang subur, dengan ciri banyak tumpukan vegetasi tumbuhan yang tertumpuk berjuta-juta tahun membuat subur ekosistem serta pereda gas emisi karbon terbesar di dunia, namun menjadikan ancaman tersendiri atas karunia surga ekosistem yang mana tempat bergantung berjuta-juta rantai makanan dalam ekosistem yang sering kita sebut sebagai ekosistem lahan gambut.

Sekelumit persoalan yang sudah tak asing lagi diatas, menjadikan perhatian banyak orang sehingga diperlukan sosok yang mampu memberikan oksigen bagi semua organisme yang ada disekeliling kita, yang tidak hanya memikirkan kepentingan  manusia saja, melainkan untuk kepentingan keseimbangan alam raya terutama bumi nusantara.

Auman singa tak lagi terdengar, macan-macan sudah jarang berkeliaran semenjak domestifikasi lokasi. Mamalia hanya asik menunggu rumput yang diberikan sang tuan, burung-burung bertangkar di dalam sangkar, menunggu sisa hidup. Kian naas sekali nasib hewan-hewan nusantara yang hanya terkurung dalam besi yang berdalih konservasi. Daya jelajah jauh tinggal anggan-anggan dimata sambil menyaksikan manusia berlalu lalang.

lingkungan bebas dirusak, mulai dari pembukaan lahan sebagai perkebunan, sampai pembuatan sarana yang tidak memperhatikan kenyamanan hewan-hewan. lawan terberat konservasi saat ini adalah ekonomi. Hewan-hewan tak berdosa dikurung untuk mendatangkan nilai rupiah. Pemanjaan luar biasa sehingga membuat kehilangan kemandirian.

Domestifikasi Lokasi tak bisa terhindarkan. Perubahan pola pikir membuat manusia lebih menyukai keindahan binatang dan burung dalam sangkar, tidak melihat langsung di alam. Sampai kapan manifesto kesadaran ekologi ini terus ditanamankan?

Mari kira resapi kembali, betapa kejamnya kita kepada kekayaan alam yang ada di negara kita, betapa sia-sianya negeri kaya dengan berbagai huru-hara. Keaneragaman melimpah, 11 persen tumbuhan, 10 persen Mamalia, dan 16 persen burung terdapat di Indonesia. Hutan hujan tropis dengan keaneragaman tinggi, curah hujan tinggi dengan tumbuhan dominan seperti anggrek dan rotan tapi deforestasi juga semakin tinggi. Kita harus tahu, apa saja yang ada di hutan hujan tropis kita. Agar dapat menghargai hutan yang manjadi penyeimbang ekosistem.

Flora dan fauna berada di ujung tanduk, hukum adat bernilai ganda, kadang menyelamatkan mereka dari kata “kepunahan”, kadang juga ikut mengeksploitasi untuk tercapainya upacara sesaji. Korporasi semakin menjadi dengan benteng aparat yang siap melakukan apapun demi sesuap nasi, bahkan iming-iming ferrari.

Menjadi oksigen bagi lingkungan sekitar memang menjadi jawabanya, dimana tidak hanya sebagai penyambung respirasi, melainkan memainkan makna yang lebih luas yakni dengan menjadi oksigen kita mampu menjadi peneduh dan penjaga bagi lingkungan sekitar kita agar keberlangsungan hidup flora dan fauna kita terwujud, agar lingkungan terjaga keasrianya, dan surga dunia mampu terjaga hingga anak cucu kita. Peran anak muda semakin dibutuhkan untuk menjadi pelopor di daerahnya masing-masing dan menjadi oksigen sesuai keahlinya. Sampai kapan kita hidup di di negara kita sendiri sebagai tamu, mari menjadi tuan di rumah sendiri.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kaum Malthusian Modern

  Kaum Malthusian Modern Bahrul Fikri Anzwar   Thomas Robert Malthus, Seorang ekonom politik sekaligus pakar demografi Inggris sempat mengem...