Follow

Follow My Blog

Jumat, 26 Juni 2020

Kebangkitan Kembali

Kebangkitan Kembali


Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri,”  Ir. Soekarno. 

Presiden Republik Indonesia pertama telah berfatwa bahwa perjuangan melawan penjajah adalah suatu hal yang muda, tetapi perjuangan melawan saudara adalah hal yang berat.
 .
Kenapa Perjuangan melawan saudara kita sendiri berat?
.

Ada ego masing-masing yang menjadikan perjuangan sangat berat. Saat sebagian memikirkan pembangunan, saat sebagian memikirkan pangan, dan saat sebagian lagi memikirkan ekonomi. Maka yang menjadi keperluan utama akan dilaksanakan, beda dengan saat penjajahan. Semua ikut berjuang untuk kemerdekaan. Baru setelah merdeka kemudian memikirkan ekonomi, pangan, dan sebagainya.

Setelah ego itu mulai bermunculan, manusia merdeka bangsa ini dikendalikan oleh sebuah wabah yang hampir menyerang setiap sektor negara, yakni Korupsi. Bermula dari rasa memiliki apa yang seharusnya tidak dimiliki, menjadi gaya hidup para petinggi di negeri ini. Betapa kasus korupsi menjadi biasa di Media, warga mulai terbiasa melihat wajah-wajah ketangkap basah.
.
Negeri kaya yang menjadi bulan-bulanan para penguasa yang bertindak seenaknya. Padahal ada jutaan warga yang merindukan keadilan, mengidamkan kemakmuran, dan mencintai tanah air ini.
.
Kemakmuran tidak akan tercapai jiwa seorang belum selesai dengan dirinya sendiri, tanpa seorang pemimpin yang tulus mengabdi, bukan mengerogoti aset negara. Kerinduan akan keadilan yang hadir seperti naskah pancasila menjadi angan-angan masyarakat kita.
.
Bangkitlah, Bangkitlah kembali. Berjuanglah tanpa mengedepankan ego pribadi, melainkan bangkit untuk ibu pertiwi. Tanah ini anugrah semesta, air ini kesucian jiwa, dan paru-paru dunia ini nafas kita semua.     

Kamis, 11 Juni 2020

Bangsa Produsen


Bangsa Produsen

Hidup dalam negeri agraris yang memiliki karakteristik tanah subur membuat sebidang tanah demi tanah terselipkan rahmat Tuhan untuk negeri ini. Salah satu bentuk mensyukuri rahmat adalah memaksimalkan tanah tersebut tanpa menghilangkan kesuburan. Anugerah yang luar biasa sebagai bekal untuk mampu menjadi bangsa produsen dari apa-apa yang keluar dari tanah, bukan menjadi bangsa Importir.
.
Cerita Tahun 1984 menjadi cerita bahwa kita mampu swasembada beras, bukan pangan loh ya. Pelajaran yang bisa kita ambil yakni kita mampu swasembada, sekali lagi kita mampu. Tanah kita mampu ditumbuhi berbagai komoditas dan memiliki keunikan masing-masing. Tanah Jawa cocok untuk tanam padi, tanah NTT cocok untuk tanam sorgum, dan berbagai tanah yang lain yang produktif untuk ditamani berbagai komoditi yang bernilai tinggi.
.
Mari kita renungkan dengan bijak, kurang apa kayanya negeri kita? apakah kekayaan merupakan kutukan, sehinga bangsa kita selalu terjajah? Mulai dari plasma nutfah melimpah, tanah yang subur, sampai musim yang sangat mendukung. 
.
Dahulu pala dan cengkeh yang membuat bangsa kita tertindas oleh Portugis dan kawan-kawanya. Muncul lagi tanam paksa oleh Belanda yang memaksa petani menanam paksa komoditas ekspor. Kurang bukti apa lagi dan oleh siapa lagi kita akan diperbudak.?
.
Tanamkan bahwa kita adalah bangsa Produsen yang seharusnya mampu memenuhi kebutuhan kita sendiri dan kebutuhan pangan dunia. Mulai dari pangan rumah tangga harus swasembada hinga negara yang agraris. Keyakinan sebagai bangsa produsen tidak boleh luntur. Bekal tanah subur untuk menyongsong kehidupan negara yang mampu memenuhi kebutuhanya sendiri.
  

Selasa, 02 Juni 2020

Desa dan Pembangunan

Desa dan Pembangunan
                    

         Masa pandemi, menjadi momentum desa untuk terus meningkatkan kompetensi dalam semua sektor. Desa tetap seperti biasanya, petani tetap bertani, peternak tetap merumput, dan kegiatan ekonomi pedesaan tidak mengalami gangguan yang signifikan. ekonomi pedesaan tetap stabil ditengah guncangan resesi dalam suatu negara, karena di desa mampu memproduksi sendiri berbagai kebutuhan pangan.

           Momentum dalam masa pandemi yang tidak dapat di prediksi ini seharusnya dapat dimaksimalkan desa untuk membangun desa lewat kader-kader desa yang sebelumnya berkuliah, mengenyam pendidikan tinggi di kampus-kampus ternama untuk ikut membangun desa memalui ide dan karya nyata selama kembali di desa. Berbagai disiplin ilmu mampu memompa geliat desa untuk semakin berdaya. 

             Memaksimalkan kader desa akan berdampak positif bagi pihak desa dan mahasiswa, seperti simbiosis mutualisme. Desa butuh inovasi, sedangkan mahasiswa butuh ruang dan wadah untuk berkarya. Momentum pandemi, momentum pas untuk mengumpulkan calon pemimpin masa depan agar sudah terampil dan aplikatif sejak dini.

         Mahasiswa pertanian, ketika di desa harus memikirkan gimana bertani secara berkelanjutan. Bagaimana pemasaran kemudian di urus oleh mahasiswa  ekonomi, sekaligus mengatur harga terendah dan tertingi. Mahasiswa pembangunan, memikirkan bagaimana konsep pembangunan desa yang tetap mengambarkan kearifan lokal desa, digandeng dengan mahasiswa arsitek yang mendesain desa agar tetap menjadi desa.

           Banyak contoh jika desa mampu bersimbiosis untuk terus membuka diri serta peran mahasiswa desa yang mau  kembali untuk membangun desa, karena sejatinya secerdas apapun mahasiswa, selalu butuh ruang untuk berkarya dan sebaik-baik desa adalah desa yang mempu memaksimalkan potensi yang ada di lingkunganya.


                  

 

Kaum Malthusian Modern

  Kaum Malthusian Modern Bahrul Fikri Anzwar   Thomas Robert Malthus, Seorang ekonom politik sekaligus pakar demografi Inggris sempat mengem...