Mengembalikan Marwah Pangan Lewat Pesantren
Oleh: Bahrul Fikri A
Tahun 1984 berlalu, kejayaan pangan dapat dikenang. Peningkatan luar biasa dari importir terbesar di tahun 1966 sampai menjadi swasembada beras di tahun 1984. Pembangunan sektor pertanian digalakkan dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian mulai bermunculan. Benih tanaman pangan mulai diseragamkan untuk mencapai kata swasembada. Kita bangga!!.sejauh ini hanya orde baru yang menyandang kata itu. Foto presiden sambil mengangkat padi hasil panen menjadi pemberitaan utama di media massa. Isu pangan merupakan isu menarik dalam peradaban manusia. Mulai dari ketersedian pangan, cara mengaksesnya, sampai politik pangan yang selalu menindas petani negeri. Penguasa hari esok bukanlah pemilik teknologi, melainkan penguasa pangan yang mengunci kebutuhan bagi masa depan mendatang.
Indonesia sebagai negara agraris seharusnya berada di top level atau di level kedaulatan pangan, bukan katahanan pangan yang hanya mencakup ketersedian pangan dan kemampuan seorang untuk mengakses pangan saja. Kedaulatan pangan menjadi harga mati untuk benar-benar mandiri dan berdaulat dalam penyedian pangan dari hulu sampai hilir, mulai dari mandiri benih sampai tingkat harga yang memihak bagi petani dan menutup impor kebutuhan pangan dengan diversifikasi tanaman pangan agar tidak selalu bergantung akan beras sebagai kebutuhan utama.
Namun, dalam praktik pertanian indonesia mempunyai banyak masalah yang kompleks seperti petani yang belum mandiri akan benih, petani bergantung akan bahan kimia, degradasi lahan, dan harga yang tidak bersahabat ketika musim panen tiba. Mengembalikan marwah pangan yang bisa dilakukan agar negara agraris yang memiliki keanekaragaman plasma nutfah dan memiliki tanah yang subur adalah dengan santri.
Santri dalam setiap pondok pesantren dahulunya mengabdikan diri untuk belajar ilmu agaman dan juga bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan pangan saat menimba ilmu. Konsep pesantren seperti ini sangat cocok digunakan untuk melahirkan lulusan atau alumnus yang memiliki kemampuan ganda dalam ilmu agama dan ilmu pertanian yang mana saat di pesantren sama-sama di asa sehinga tidak selalu bergantung pada sarjana pertanian saja dalam menghadapi dan mencapai kata kedaulatan pangan.
Pesantren agraria menjadi model pesantren yang menarik untuk dibahas karena memiliki beberapa aspek yang menguntungkan bagi santri, pesantren, dan negara. Pesantren agraria memang jumlahnya tak banyak sekarang, namun jika pesantren ini mulai digalakkan lagi, mana tentu banyak sekali peminat yang mana dapat menpengaruhi kecintaan generasi muda akan hal pertanian yang makin hari makin di tingalkan karena pertaian diangap pekerjaan yang sulit menjadikan kaya dan selalu kotor-kotoran dengan lumpur.
Santri memang memiliki orientasi belajar agama dalam pesantren, namun jika ada bekal ganda maka ada nilai tambah. Pesantren agraria mempunyai banyak keuntungan diantaranya yakni,
1. Pesantren Daulat Pangan: Penyediaan pangan pesantren lewat hasil panen sendiri dimana pesantren mandiri dalam hal pangan tanpa membeli kebutuhan dari luar.
2. Pangan sehat: Santri pesantren mendapatkan pangan sehat dari hasil bertani mengunakan sistem organik tanpa bahan kimia. Pangan sehat menjadi nilai plus saat ini karena pestisida yang menjadi jaminan petani agar panen padahal residu pestisida selain mencemari lingkungan juga membuat penyakit.
3. Benih lokal lestari: Pengunaan benih lokal sebagai benih bertujuan untuk merawat plasma nutfah dan menjadikan santri untuk belajar menjadi ilmuan dalam bidang pertanian lewat pemulian benih. Erosi genetik tak bisa dihindari jika negara yang kaya raya dengan predikat megabiodiversity ini tidak menjaga kekayaan berupa benih lokal warisan leluhur.
4. Mencetak generasi petani: Generasi milenial menjadi generasi yang anti kotor dan engan untuk beranjak dari gadged. Krisis pangan akan terjadi jika generasi mulia para petani tinggal orang tua, tidak ada generasi muda. Kehancuran hanya menunggu negara yang kaya, tanahnya kayak surga ini.
5. Mengurangi degradasi lahan: Kesadaran untuk mempertahankan lahan produktif merupakan manifestasi kesadaran ekologi yang harus ditanamkan kepada generasi muda agar tidak mudah terjadi alih fungsi lahan, karena asas keberlanjutan perlu diperhatikan dalam pembangunan berkelanjutan.
6. Menciptakan santri mandiri: Kemandiri dalam kegiatan bertani di pesantren menuntun dalam hal kemandirian ekonomi, dimana kegiatan bertani bukan hanya di tanah tetapi juga mampu melakukan usaha dalam bidang pertanian seperti hal mampu untuk menjadikan produk-produk turunan yang mampu mendobrak ekonomi.
Pesantren agraria menjadi terobosan ketika petani mulai langkah akibat sengsara di negara merdeka, menjadi basis gerakan dari bawah dan dengan dasar ilmu agama yang kuat menjadikan santri lulusan sekolah agraria mampu merawat alam sehingga mengurangi bahan kimia di alam yang membuat tanah semakin tidak subur. Eksploitasi tanah berlebihan menjadikan tanah surga ini menjadi gersang, residu bahan kimia di alam membuat hidup manusia tidak sehat. Santri harus benar-benar mengawal dan mengembalikan marwah pangan sehingga membuat bangsa ini mensyukuri nikmat alam yang subur ini untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan dan tepat guna untuk keperluan memenuhi kebutuhan manusia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar