Follow

Follow My Blog

Kamis, 11 Juni 2020

Bangsa Produsen


Bangsa Produsen

Hidup dalam negeri agraris yang memiliki karakteristik tanah subur membuat sebidang tanah demi tanah terselipkan rahmat Tuhan untuk negeri ini. Salah satu bentuk mensyukuri rahmat adalah memaksimalkan tanah tersebut tanpa menghilangkan kesuburan. Anugerah yang luar biasa sebagai bekal untuk mampu menjadi bangsa produsen dari apa-apa yang keluar dari tanah, bukan menjadi bangsa Importir.
.
Cerita Tahun 1984 menjadi cerita bahwa kita mampu swasembada beras, bukan pangan loh ya. Pelajaran yang bisa kita ambil yakni kita mampu swasembada, sekali lagi kita mampu. Tanah kita mampu ditumbuhi berbagai komoditas dan memiliki keunikan masing-masing. Tanah Jawa cocok untuk tanam padi, tanah NTT cocok untuk tanam sorgum, dan berbagai tanah yang lain yang produktif untuk ditamani berbagai komoditi yang bernilai tinggi.
.
Mari kita renungkan dengan bijak, kurang apa kayanya negeri kita? apakah kekayaan merupakan kutukan, sehinga bangsa kita selalu terjajah? Mulai dari plasma nutfah melimpah, tanah yang subur, sampai musim yang sangat mendukung. 
.
Dahulu pala dan cengkeh yang membuat bangsa kita tertindas oleh Portugis dan kawan-kawanya. Muncul lagi tanam paksa oleh Belanda yang memaksa petani menanam paksa komoditas ekspor. Kurang bukti apa lagi dan oleh siapa lagi kita akan diperbudak.?
.
Tanamkan bahwa kita adalah bangsa Produsen yang seharusnya mampu memenuhi kebutuhan kita sendiri dan kebutuhan pangan dunia. Mulai dari pangan rumah tangga harus swasembada hinga negara yang agraris. Keyakinan sebagai bangsa produsen tidak boleh luntur. Bekal tanah subur untuk menyongsong kehidupan negara yang mampu memenuhi kebutuhanya sendiri.
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kaum Malthusian Modern

  Kaum Malthusian Modern Bahrul Fikri Anzwar   Thomas Robert Malthus, Seorang ekonom politik sekaligus pakar demografi Inggris sempat mengem...