Tema : Hikmah Dibalik Wabah, Menjalani dan Menyiapkan Kemenangan
NYATA
Bahrul Fikri A (085843561927)
“Berlaku tidaknya idul fitri pada seorang muslim pada hakikatnya hanya ia sendiri beserta Tuhan yang mengetahui. Orang lain hanya bisa mengira-ngira berdasarkan indikator apakah ada perubahan pada seorang sebelum dengan sesudah ramadan”
(Ehma Ainun Nadjib)
Pagi itu terasa hampa, banyak orang tercengang melihat media massa yang ramai menyiarkan siaran internasional tentang vyrus yang muncul di kota Wuhan-Cina. Alih-alih muncul dari kelelawar, hinga beragam sudut pandang tentang kemunculan makhluk mungil ini. Saat itulah Wuhan menjadi episentrum pemberitaan dunia dengan gonjang-ganjing omongan dan pendapat yang bersliweran. Mulai yang realistis sampai yang supra-natural.
Tukang becak dan para ojek mungkin cuek, beda dengan forum warung kopi antar provinsi yang mulai adu kepercayaan setiap gelas yang berbeda. Ada pihak yang percaya vyrus itu dari kelelawar, ada yang juga ngeyel itu konspirasi dunia, ada juga yang ngapok-ngapokkan karena orang Cina suka makan hewan mentah. Sisi lain ada yang sampai menyumpah bahwa Indonesia tidak akan terkena wabah. Ah, ramai karnamu corona.
Namun, kebenaranya cuma satu. Ternyata vyrus ini juga berlabu dalam negera kita. Menguras angaran belanja, membuat hutang semakin menambah. Belum lagi korban jiwa yang kadang tak diterima. Sungguh memalukan. Oknum-oknum yang berlagak paling anti, padahal tidak mengerti konsekuensi.
Prediksi mulai bermunculan, mulai dua bulan sampai akhir tahun vyrus corona ini akan hilang. Warga yang berpesta, warga yang punya hajat harus menunda dulu. Terlebih saat umat Islam menjalankan ibadah puasa, maka semuanya dilakukan di rumah saja. Tidak ada kesempatan untuk berkerumun, dan tidak ada kegiatan yang mengundang banyak orang. Ramadan ditengah pandemi dengan kebesaran hati.
Tuhan menitipkan hikmah yang besar saat ramadan dengan wabah. Wabah seperti alarm yang membangunkan manusia yang tertidur dalam kefaan untuk bangun dan kembali bersujud. Wabah seperti jalan bagi hamba untuk menepi dan menjalankan apa-apa sendiri sehinga bisa mengintropeksi diri. Wabah menjadi alat untuk tetap mensyukuri setiap keadaan yang Tuhan berikan.
Kemenangan akan menjumpai pribadi yang tetap menjalani kehidupan dengan penuh hasrat untuk tetap menjadikan akhirat sebagai tujuan. Idul fitri menjadi hari lahir pribadi baru yang tiap orang bangkit dari masalalu yang mengelapkan. Maaf dan memaafkan menjadi pembesar jiwa bagi hamba-hamba yang selalu berlapang dada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar