Follow

Follow My Blog

Jumat, 17 April 2020

Lain Doeloe, Lain Sekarang


Lain Doeloe, Lain Sekarang
Bahrul Fikri Anzwar (085843561927)

Seorang Pengagum cendrawasih, merak jawa, serangga, siput, dan reptil. Pengumpul orang hutan Borneo yang sekarang tersimpan rapi di musium Derby dan British. Penikmat sekaligus pengagum Nusantara ketika flora dan fauna jauh dari kata punah. Bung Alfred Russel Wallace, sang naturalis yang telah masuk ke pedalaman Borneo antara November 1855 sampai Januari 1856.
Kondisi Borneo (Kalimantan) saat itu masih perawan, dalam buku “Petualangan Borneo” karya Wallace dijelaskan bahwa “Wallace berburu orang hutan (mias) di pedalaman dengan mengunakan senapan dan menyewa warga lokal untuk mengambil ketika tersangkut di pohon-pohon yang besar dan rimbang, bahkan sampai menebang pohon yang besar demi mendapatkan orang hutan”.
Borneo memang terkenal akan hutan dengan pohon yang lebat dan menjadi paru-paru dunia, julukan yang tak asing di telingi kita tapi tak banyak juga yang mampu menjaga nama besar Borneo akibat ulah tangan manusia yang mengancam keberlangsungan hidup hutan Borneo. Mulai dari degradasi lahan, illegal logging, perburuan liar, sampai pembakaran lahan untuk kepentingan pribadi dan korporasi.
Lahan Borneo yang subur, dengan ciri banyak tumpukan vegetasi tumbuhan yang tertumpuk berjuta-juta tahun membuat subur ekosistem serta pereda gas emisi karbon terbesar di dunia, namun menjadikan ancaman tersendiri atas karunia surga ekosistem yang mana tempat bergantung berjuta-juta rantai makanan dalam ekosistem yang sering kita sebut sebagai ekosistem lahan gambut. Lahan gambut meyimpan sejuta manfaat bagi ekosistem, namun menjadi pekerjaan buat kita semua untuk menjaga lahan hutan gambut.
Konservasi ekosistem lahan menjadi sangat berarti, mengenali, menjaga, dan memanfaatkan ekosistem lahan gambut dengan baik sama dengan menjaga rumah dan menjaga keberlangsungan hidup flora dan fauna di sekelilingya. Apa arti Biodiversity, jika Biodiversity Hotspot selalu menghantui? Apa arti tanah yang subur, jika lahan gambut menjadi rebutan para korporasi yang selalu menghantui? Negeri yang subur menjadi Rahmat Tuhan untuk manusia, bukan menjadi ajang untuk memperkaya pribadi. Mari menjadi tuan di tanah sendiri dengen mengerti kondisi kekayaan alam bangsa ini. Menjaga kearifan lokal tanpa merusak alam, menjaga lahan gambut untuk keberlangsungan kehidupan anak cucu kita, dan bukan hanya cerita hari esok tentang kejayaan ekosistem lahan gambut dimasa lalu.

1 komentar:

  1. Seng bahas iki wes ono sam, mungkin iso digae referensi jenenge Akhmad Ryan Pratama. Dewek e nulis tentang deforestasi ng Kalimantan.

    BalasHapus

Kaum Malthusian Modern

  Kaum Malthusian Modern Bahrul Fikri Anzwar   Thomas Robert Malthus, Seorang ekonom politik sekaligus pakar demografi Inggris sempat mengem...