Keaneragaman merupakan kekayaan yang bisa dimanfaatkan sesama, bukan korporasi saja.
Erosi Genetik
Seorang bapak paruh baya mengenakan baju batik bertopi caping tersenyum simpul, seraya mengangkat serumpun padi menguning baru saja dituai. Pemandangan itu menandai tercapainya swasembada pangan (beras) negeri ini, setelah ratusan tahun dalam kungkungan penjajahan. Kita telah merdeka dengan bebas menanam tanaman apapun yang menjadi kebutuhan hidup. Swasembada beras (pernah) kita capai pada awal tahun 80-an. Sungguh merupakan pencapaian yang wajib disyukuri. Perekonomian pangan Indonesia menjadi saksi bahwa ekonomi pangan menjadi sesuatu hal yang sangat strategis. Saat kunjungan kerja di Yogyakarta tahun 1973, presiden kedua Republik Indonesia H.M Soeharto mengemukakan bahwa “.......Kita harus menghasilkan sendiri bahan-bahan pangan khususnya beras dalam jumlah yang telah kita ketahui agar kestabilan daripada harga beras itu betul-betul akan terjamin.......”. ((Sawit (2002) dalam Suryana (2008)).
Swasembada beras telah membawa bangsa ini dari sabang sampai merauke kepada era baru. Semula sulit memenuhi kebutuhan pokok pangan ke era kebutuhan pokok yang mudah dan murah. Kebutuhan pokok pangan nasional pada waktu itu tercukupi dengan produksi beras nasional yang tinggi. Swasembada beras telah mengubah pola konsumsi pangan skala nasional secara drastis. Sebelum era swasembada beras, setiap daerah memiliki makanan pokok yang khas. Di era swasembada beras semua makanan pokok daerah satu-persatu mulai ditinggalkan, seluruh masyarakat beralih pada konsumsi makanan pokok beras.
Swasembada beras ditandai dengan diadopsinya varietas padi IR36 dan IR64 dari IRRI Philipina. Varietas tersebut diadopsi sebagai varietas unggul nasional di negara kita. Padi varietas IR36 dan IR64 memiliki berbagai keunggulan yang cukup signifikan dibanding varietas-varietas yang ada di negara ini. Padi varietas IR36 dan IR64 memiliki umur yang singkat sekitar 3 bulan, sementara varietas lokal saat itu memiliki umur rata-rata di atas 5 bulan. Varietas IR36 dan IR64 bisa ditanam 3 kali setahun, sementara dengan varietas lokal petani hanya bisa menanam padi setahun sekali. Padi varietas IR36 dan IR64 merupakan varietas unggul tahan wereng yang belum ada varietas lokal sebelumnya. Kedua varietas ini juga sangat responsif terhadap pemupukan. Kedua varietas tersebut telah merebut hati semua petani Indonesia untuk membudidayakannya dengan berbagai keunggulannya.
Sebelum era swasembada beras, masyarakat mengenal berbagai makanan pokok daerah. Madura dengan makanan pokok jagung, Maluku dengan makanan pokok sagu, Jawa Tengah dengan makanan pokok gaplek dan lain-lain. Pada masa tersebut masih banyak dijumpai makanan pendamping berupa umbi-umbian seperti uwi, gembili, garut, ganyong, talas, gadung, dan lain-lain. Tercapainya swasembada beras mengakibatkan umbi-umbian satu persatu mulai ditinggalkan. Alhasil umbi-umbian tersebut sulit ditemukan.
Era swasembada beras juga ditandai dengan adanya perubahan sistem budidaya tanaman pada petani. Sistem budidaya tanaman di era sebelumnya dilakukan dengan sistem tumpang sari, menanam berbagai jenis tanaman dalam satu bidang lahan, beralih ke sistem pola tanam monokultur. Pola tanam monokultur dengan menanam padi satu varietas dirasa lebih menguntungkan.
Pencapaian swasembada beras telah membawa dampak positif maupun negatif bagi bangsa dan negara. Produksi beras yang tinggi telah memenuhi kebutuhan pangan secara nasional pada dekade saat itu. Bencana kelaparan yang selama ini selalu mengancam bangsa Indonesia di setiap tahun dapat teratasi mulai tahun 1984 tersebut.
Pada sisi lain, sektor budidaya masyarakat sudah terlanjur merasakan nikmatnya mengonsumsi pangan beras, secara drastis meninggalkan bahan pangan non beras. Sistem budidaya petani dengan sistem pola tanam tumpang sari padi, jagung, sorgum, kedelai, ubi kayu ditanam dalam satu bidang tanah, beralih ke sistem pola tanam monokultur padi saja. Berbagai tanaman pekarangan seperti uwi, gembili, garut, ganyong, suweg, gadung, dan lain-lain yang selama ini berperan sebagai bahan makanan selingan, perlahan namun pasti telah tersingkirkan dari pekarangan rakyat.
Hal tersebut sangat disayangkan, kurangnya antisipasi terhadap plasma nutfah nusantara yang beragam, utamanya tanaman pangan membuat dampak terkikisnya erosi genetik. Masalah yang kompleks dan serius ini mengarah pada hilangnya atau tergesernya sumber daya genetik yang sering diperbesar ataupun dipercepat oleh manusia. Erosi genetik menyebabkan hilangnya keanekaragaman pada hewan dan tumbuhan. Padahal telah disadari, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki biodiversitas tinggi. Semua bisa hidup di Indonesia, negeri yang amat kaya.
Keanekaragaman gen dapat hilang karena proses pengurangan kelengkapan gen pada setiap spesies yang ada. Pengurangan kelengkapan gen dapat terjadi secara bertahap maupun secara drastis. Keanekaragaman genetik tanaman pangan mulai hilang, tergantikan oleh varietas baru. Varietas lokal yang seharusnya menjadi varietas kunci dimana sebagai sumber genetik dapat diturunkan sebagai bekal untuk melahirkan varietas baru dilupakan. Seumpama melupakan orang tua dan hanya mengingat anaknya saja, apakah hal itu baik? Rasanya tidak tega jika hanya bercerita tentang keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia kepada anak cucu, tanpa mereka mengetahui dan mengenalnya secara virtual.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar