Nak, carilah
kematian niscaya engkau akan mendapatkan kehidupan.
“Abu Bakar
As-Shiddiq”
Kematian memang identik dengan
akhirat, sedangkan kehidupan berhubungan dengan dunia. Manakah yang lebih
utama?mungkin sebagian berpendapat.” kita itu hidup di dunia kalau sudah tua
saja baru mikir akhirat ataupun berpikir begini.” Kalau nanti tidak mikir dunia
dulu mana bisa sampai ke akhirat”. Dikira ini lari estafet ataukah kita
malaikat yang mengerti takdirnya masing-masing
Benar,orang
kaya akan mati. Orang miskin akan mati. Pejabat akan mati, presiden pun akan
mati. Bahkan Nabi pun akan mati. Lalu siapakah kita?Nabi?Sahabat Nabi ataukah
Nabi palsu? Kita hanyalah manusia biasa yang penuh dengan dosa. Kita akan mati
tapi apakah bekal kita sudah cukup?
Kalau
kita tidak punya uang di Dunia kita bisa hutang kepada saudara atau kepada
teman kita. Kalau kita di akhirat, pahala kita belum cukup untuk standar
ketuntasan surga. Apakah kita bisa berhutang atau pinjam pahala. Ataukah ada
Kredit Pahala?
Hakikat
hidup adalah untuk beribadah. Kehidupan selalu mengarah pada kematian sedangkan
kematian selalu menjemput kehidupan. Jika kita mancari akhirat maka otomatis
dunia akan ikut, tapi kalau kita mencari dunia yang fana ini maka belum tentu
akhirat akan ikut. Kadang manusia tertipu oleh kesenangan dunia.
Harta
adalah racun dunia. Banyak yang menjadi hamba harta. Para pejabat yang selalu
tampil eksotis, rapi dan selalu menunjukkan wibawanya adalah korbanya. Mereka
selalu hidup bergelimpangan harta tapi mereka selalu kurang. Harta ibarat
sebuah media. Jika orang itu bisa mengunakan dengan baik maka ia selamat
sedangkan jika ia terbuai oleh harta maka ia akan celaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar