Kaum Malthusian Modern
Bahrul Fikri Anzwar
Thomas Robert Malthus, Seorang ekonom politik sekaligus pakar demografi Inggris sempat mengemparkan dunia lewat teori popolasi yang membuat banyak orang pesimis, dimana perkembangan manusia terus bertambah seperti deret ukur, sedangkan peningkatan pangan seperti deret bilangan. Populasi manusia bertambah dengan cepat, sedangkan ketersediaan pangan bertambah secara perlahan atau mungkin pada batas tertentu ketersediaan pangan tidak akan mencukupi kebutuhan manusia seiring bertambahnya populasi, oleh karena itu, teori Malthus ramai diperbincangkan dan mungkin berbagai kewaspadaan mulai terpikirkan dalam peradaban manusia kala itu.
Bayangkan saja penduduk negara A tahun 1868 adalah 20 juta jiwa, lalu naik menjadi 40 juta jiwa pada 1878, dan pada tahun 1888 menjadi 80 juta jiwa. Kemudian produksi rata-rata pertahun hanya meningkat 1%. Satu sisi lain lahan untuk memproduksi pangan semakin berkurang. Dulunya banyak lahan kosong untuk pertanian, karena meledaknya populasi manusia maka lahan tersebut menjadi komplek perumahan. Ekologi pertanian juga berubah, iklim mikro waktu demi waktu berubah, sehinga banyak yang takut akan terjadi kiamat dini akibat kurangnya pangan.
Berbagai hal dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan pangan tersebut, sehinga kaum yang percaya teori malthusian menjadi kaum tersibuk pada saat itu karena mereka selalu dibayangi masa depan yang membuat pesimis, namun dewasa kini. Kaum malthusian modern lahir bukan akibat kekurangan pangan, melainkan lahir akibat gaya hidup yang tinggi dan buta kesadaran. Tidak realistis akan kehidupan, melainkan kemewahan yang dijadikan slogan.
Kaum Malthusian modern ini tidak takut terhadap masa depan, tapi takut terhadap masa sekarang, sehinga kemewahan instan yang dibuat sebagai penghias kehidupan mereka. Kaum ini menyebar diseluruh belahan dunia yang mana memiliki kekuatan hidup (fitness) yang bergantung antar kaum, saling melindungan dan menghidupi satu sama lain. Kita bisa menyebutnya berkoloni untuk kejayaan bersama tanpa memikirkan manusia yang ditindasnya. Hanya anggota yang bisa mengenalnya walaupun tanpa tanda pengenal ataupun id card.
Kaum modern ini sering mengambil keuntungan umum untuk pribadi ataupun golongan mereka sendiri. Manifestasi yang ditananamkan adalah kecukupan sesaat, terima dari sisi sini dan sisi situ, selama ada kesempatan maka keuntungan akan datang. Kaum ini lahir diantara pejabat pejabat kelas atas. Kalau kaum malthusian dulu adalah kaum yang pesimis akan masa depan kerena kekurangan pangan, kaum malthusian sekarang pemisis terhadap kondisi saat ini, dimana kesempatan terbuka lebar untuk memperkaya diri. Jalan yang diambil adalah jalan kekayaan selagi masih menjabat.
Kita tahu dan kenal siapa kaum malthusian modern ini. Melimpah ketika kita akan menyebutkan, sering muncul di media, dan berkopyah ketika sudah menjadi tersangka.
.

